Peluncuran Buku “Soemitro Djojohadikusumo: Anti Penjajahan” dan Simposium Nasional Digelar di Gedung RRI Jakarta

Jakarta, 4 Agustus 2026* – Peluncuran buku _Soemitro Djojohadikusumo: Anti Penjajahan_ sekaligus Simposium Nasional digelar di Gedung RRI Jakarta Pusat. Acara ini menjadi ruang refleksi gagasan ekonomi kebangsaan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo dan relevansinya dengan kebijakan saat ini.

Hadir dalam acara tersebut sejumlah tokoh, di antaranya Dr. Ius Hendrasno selaku tuan rumah, Tenaga Ahli Utama KSP Bapak Muhammad Hadapi yang mewakili Kepala KSP, keluarga besar Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, penulis buku Dr. Agus Rizal dan Bapak Dedi Setiadi, pengurus Nusantara Center, serta sejumlah senior. Turut hadir Ibu Dr. Siti Fadilah Supari dan Prof. Dr. Budi.

Relevansi Pemikiran Soemitro dengan UU Perekonomian Nasional
Dalam pidatonya, Ferry Juliantono dari Kementerian Koperasi menegaskan bahwa pemikiran Prof. Soemitro tidak bisa dilepaskan dari semangat anti penjajahan dan upaya penguatan ekonomi domestik.

“Kita berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting, yaitu tentang pikiran Profesor Soemitro Djojohadikusumo yang anti penjajahan dan urgensinya dengan Undang-Undang Perekonomian Nasional,” ujar Ferry.

Ferry menyoroti peran Soemitro sebagai salah satu pendiri Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia. Melalui induk koperasi tersebut, Soemitro pernah mendirikan Bank Kesejahteraan Ekonomi yang menjadi pilar penting gerakan koperasi.

Ia juga menarik benang merah pemikiran Soemitro dengan ayahnya, Bapak Margono Djojohadikusumo. Menurut Ferry, Margono merupakan sahabat dan mitra diskusi Bung Hatta dalam merumuskan Pasal 33 UUD 1945. Gagasan itu kemudian dituangkan dalam dokumen _Pola Pembangunan Semesta Berencana_ periode 1947-1959, di mana Soemitro dan Margono terlibat sebagai anggota Dewan Perancang Nasional.

“Dokumen itu menjadi dasar dari pikiran Profesor Soemitro. Di situ sudah diuraikan pembangunan pedesaan yang demokratis, eviden base policy, dan kebijakan berbasis fakta sosial,” jelasnya.

Dari Pemikiran ke Implementasi: Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih
Ferry mengaitkan gagasan tersebut dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto saat ini. Ia menyebut arahan Presiden untuk membangun dan mengoperasionalkan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih sebagai bentuk implementasi dari pemikiran para pendiri bangsa.

“Presiden Prabowo memutuskan untuk kembali menggunakan Pasal 33 UUD 1945 dan tidak lagi menggunakan resep IMF. Beliau akan kembali menghadirkan negara untuk mengatur sistem, praktik, dan alat ekonomi kita kembali ke ekonomi konstitusi,” lanjut Ferry.

Ia menyampaikan, hingga Agustus 2025 ditargetkan 20.000 unit koperasi desa selesai 100% bangunan fisiknya, dan di akhir tahun ditargetkan mencapai 40.000 unit. Pembangunan ini didukung TNI agar lebih efisien dan tepat waktu.

Salah satu terobosan besar adalah keputusan dalam Rapat Kabinet Terbatas 15 Juli 2025 bahwa seluruh barang bersubsidi seperti minyak goreng, elpiji 3 kg, pupuk bersubsidi, beras, dan PHP akan disalurkan langsung melalui Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih. Tujuannya memotong rantai distribusi yang selama ini panjang dan merugikan masyarakat.

“Ini adalah bentuk keputusan politik dari Presiden Prabowo untuk transformasi dari pikiran menjadi program teknokratis. Setiap perubahan pasti punya konsekuensi. Kami di Kementerian Koperasi mohon doa dan dukungannya agar koperasi desa merah putih bisa berjalan dan memberi manfaat sebesar-besarnya,” tambah Ferry.

Dorongan Lahirnya UU Perekonomian Nasional
Di akhir pidato, Ferry menekankan pentingnya segera memiliki Undang-Undang Perekonomian Nasional sebagai payung hukum. UU ini diperlukan untuk mengatur peran BUMN, swasta, dan koperasi secara proporsional.

“Jangan sampai dagingnya semua swasta dan BUMN, sisanya baru koperasi. Sekarang koperasi sudah boleh masuk ke sektor-sektor strategis, mendirikan pabrik CPO, bahkan bank. Ini harus diatur dalam undang-undang,” pungkasnya.

Nusantara Center bersama seluruh pihak diharapkan dapat mendorong lahirnya UU Perekonomian Nasional tersebut.

*Tentang Acara*
Peluncuran buku dan simposium ini digagas oleh Nusantara Center sebagai upaya menghidupkan kembali gagasan ekonomi kerakyatan, kebersamaan, dan gotong royong yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa.

Arny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »