EL NIÑO 2026: MAPBIOMAS INDONESIA LUNCURKAN “FIRE MONTHLY” _Sinergi Data Akurat Jadi Kunci Pengendalian Karhutla Sebelum Puncak Musim Kemarau.

Jakarta, 24 Agustus 2026* – Menjawab meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tahun El Niño 2026, *MapBiomas Indonesia* bersama *Auriga Nusantara* resmi meluncurkan *MapBiomas Fire Monthly*.

Rilis data area terbakar koleksi pertama ini mencakup data kebakaran bulanan periode Januari – Juni 2026. Peluncuran dan talkshow bertema “El Niño 2026: Memperkuat Sinergi Data Kolaborasi untuk Pengendalian Karhutla di Indonesia” yang digelar di Ruang Singosari, Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (24/8/2026).

Hingga pertengahan 2026, luas karhutla di Indonesia sudah meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, bahkan sebelum dampak El Niño mencapai puncaknya.

Data Bulanan untuk Aksi Pencegahan yang Lebih Cepat.
Berbeda dengan data tahunan, MapBiomas Fire Monthly akan meng-update datanya setiap bulan. Tujuannya agar publik, pemerintah, dan pemangku kepentingan bisa membaca pola kebakaran secara real time dan bergerak lebih cepat dalam konteks pencegahan.

“Data ini mestinya bisa kita diskusikan untuk membaca, kita harus bergerak ke mana dalam konteks mencegah. Tapi bisa juga kita pakai untuk memetakan daerah-daerah yang harus kita prioritaskan,” ujar Temer dari perwakilan MapBiomas Indonesia.

Detail informasi seperti jenis lahan juga sangat penting. Sekitar separuh area terbakar terjadi di lahan gambut. Padahal karakteristik gambut berbeda dengan lahan mineral.

“Di gambut, minggu ini terbakar, minggu depan bisa terbakar lagi di daerah yang sama. Pengetahuan ini penting agar penanganannya berbeda dengan di gunung di Jawa atau di NTT. Bahkan penganggarannya juga mestinya berbeda,” tambahnya.

BNPB: Risiko 2026 Tingkat Tinggi, Puncak di Agustus – September

Ricky, Direktur BNPB yang hadir sebagai narasumber, menegaskan bahwa BNPB menilai risiko karhutla 2026 berada pada tingkat tinggi.

“Indikasi tersebut terlihat dari meningkatnya kejadian karhutla sejak awal tahun, serta potensi cuaca yang lebih kering. Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Agustus 2026 sebesar 48,84% dan September 2026 sebesar 25,81%. El Niño diprediksi berlangsung sampai awal 2027,” jelas Ricky.

Untuk menghadapi ini, BNPB memprioritaskan 3 langkah:
1. Pencegahan: Patroli terpadu, pemantauan titik panas, edukasi masyarakat
2. Kesiapsiagaan*: Memastikan sumber air, logistik, dan mekanisme respon cepat
3. Respon Cepat*: Deployment helikopter, waterbombing, operasi modifikasi cuaca, dan penegakan hukum

“Data area terbakar bulanan dari MapBiomas menjadi pelengkap penting. Jika hotspot menunjukkan potensi, maka data area terbakar membantu kami menilai tingkat keparahan, efektivitas pengendalian, serta tren perkembangan karhutla dari waktu ke waktu,” kata Ricky.

BNPB juga mendorong penguatan sistem komando, pertukaran data real time, dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah agar respon lebih terpadu dan efektif.

Tantangan: Koordinasi dan Kecepatan Respon*
Tantangan terbesar saat ini adalah kecepatan dan keseragaman respon antar pemangku kepentingan, serta perbedaan kapasitas sumber daya di daerah.

“Oleh karena itu kita perlu menerjemahkan informasi risiko menjadi tindakan pencegahan di lapangan secepat mungkin,” tutup Ricky.

Dengan adanya MapBiomas Fire Monthly, diharapkan pengambilan keputusan terkait prioritas penanganan, pengerahan personel, dan pemulihan ekosistem bisa lebih cepat, tepat, dan berbasis data.

Tentang MapBiomas Indonesia
MapBiomas adalah inisiatif kolaboratif untuk memetakan perubahan tutupan dan penggunaan lahan di Indonesia berbasis data satelit. Fire Monthly merupakan produk terbaru untuk memantau area terbakar secara bulanan guna mendukung pengendalian karhutla.

Arny

#

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »