DPP GPP Memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81, dengan Menggelar Dialog Nasional

JAKARTA, Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, tanggal 17 Agustus 2006, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila (DPP GPP) menggelar forum dialog nasional bertajuk “Refleksi Kebangsaan HUT Kemerdekaan RI: Gerakan Pembumian Pancasila.”

Acara yang menghadirkan perpaduan pandangan antara tokoh senior dan aktivis akademisi muda ini dibuka secara resmi oleh jajaran sekretariat DPP GPP, diawali dengan pembacaan Teks Proklamasi oleh Dr. Hermanto Yaputra, SE, MM, pembacaan Pancasila oleh Dr. Dr. Yosephin, serta pembacaan Declaration of Life oleh Isto Histo Krisanto, S.Si. Dalam sambutan pembukanya, moderator menekankan bahwa peringatan kemerdekaan tak boleh sekadar menjadi rutinitas seremoni fisik, melainkan harus diisi dengan kontemplasi mendalam mengenai keadilan sosial, kedaulatan politik, dan kemandirian ekonomi bangsa.

Pada sesi refleksi pembuka dan utama, Dr. Antonius Dieben Robinson Manurung, M.Si. selaku Ketua Umum DPP GPP mengingatkan pentingnya kesabaran dan ketahanan ideologis dalam menjaga Pancasila sebagai ideologi terapan untuk menangkal neoliberalisme, kapitalisme, dan radikalisme. Senada dengan hal tersebut, Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya, S.I.P. sebagai Ketua Dewan Pembina DPP GPP sekaligus Sekretaris Dewan Pakar BPIP RI menguraikan makna sejati kemerdekaan, di mana kedaulatan berarti kemandirian bangsa mengatur arah pembaruannya, sedangkan keadilan dan kemakmuran adalah hadirnya pemerataan hak serta kesejahteraan nyata bagi seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke.

Sesi Panel Reflektor Ahli yang dipandu oleh Wakil Rektor Universitas Flores, Dr. Dra. Immaculata Fatima, mempertemukan pemikiran kritis para pakar senior. Prof. Dr. H. KPH Ermaya Suradinata, S.H., M.H., M.S. menegaskan bahwa Pancasila tak boleh terlambat merespons zaman dan menuntut keteladanan etika dari elite politik. Sementara itu, Prof. Dr. Ganjar Razuni, S.H., M.Si. menyoroti pentingnya konsistensi tata negara agar tak menyeleweng dari spirit UUD 1945. Prof. Dr. Sukadi, M.Pd., M.Ed. menekankan penggunaan nilai Pancasila sebagai pisau analisis kritis dalam menyelesaikan kompleksitas sosial dan krisis moral, yang ditutup dengan pandangan Prof. Dr. H. Chandra Setiawan, M.M., Ph.D. mengenai pembumian kebhinekaan di sektor ekonomi dan pendidikan demi terwujudnya keadilan sosial tanpa diskriminasi.

Keberlanjutan nilai-nilai luhur tersebut disambut secara dinamis pada sesi Reflektor Muda yang menyuarakan aspirasi relevan bagi Generasi Z dan Milenial. Dari perspektif spiritualitas dan keberagaman, Andre Genta Senjaya, M.Psi., CPC (Tokoh Muda Konghucu) menggarisbawahi pentingnya kesehatan mental dan moderasi beragama, yang diperkuat oleh Albet Novaldo (Tokoh Muda Buddha) mengenai nilai cinta kasih universal dalam kehidupan digital. Sementara itu, nilai-nilai pergerakan nasionalis digelorakan oleh Sujahri Somar dan Muhammad Risyad Fahlefi, S.I.P. selaku pimpinan DPP GMNI yang menyerukan pengawalan keadilan sosial serta ajaran Marhaenisme sebagai bintang penuntun perjuangan pemuda.

Representasi kedaerahan dan keterwakilan kelompok muda turut memperkaya arah dialog kebangsaan ini. Junaidi, M.A. (Tokoh Muda Aceh) dan Deden Uropmabin, S.Pd., M.Pd. (c) (Tokoh Muda Papua Pegunungan) menyuarakan urgensi pemerataan pembangunan, akses pendidikan, dan keadilan sosial bagi wilayah pelosok tanah air. Di sisi lain, isu kepemimpinan generasi dan keadilan gender diangkat oleh I Putu Arya Aditia Utama (Ketum Forum GenRe Indonesia) melalui fokus pembentukan karakter pemuda, serta Riska, S.H., M.H. (Waketum KOHATI PB HMI) yang menekankan pentingnya peran kepemimpinan perempuan Pancasialis dalam edukasi hukum dan kesejahteraan keluarga.

Melengkapi pandangan lintas elemen pemuda, gerakan kritis mahasiswa dan aksi nyata berbasis komunitas diutarakan oleh Prima Surbakti, S.T. (Ketum PP GMKI) serta Christian A. D. Rettob, S.H., M.H. (Ketua Presidium PP PMKRI 2026–2028) yang berkomitmen mengawal supremasi hukum, keadilan lingkungan, dan perlindungan bagi kaum marginal.

Diskusi diakhiri oleh pandangan Angelo Basario Marhaenis, S.Psi., M.Psi. (Inisiator Forum Indonesian Youth Ideology) yang mengajak pemuda mendefinisikan kembali Pancasila melalui pendekatan populer dan inovasi teknologi. Rangkaian dialog interaktif lintas generasi ini membuktikan bahwa Pancasila tetap menjadi ideologi hidup yang sanggup menjawab tantangan zaman dan menyatukan seluruh elemen bangsa Indonesia.

Pada akhir acara kegiatan ini ditutup dengan Refleksi oleh Bapak Sekretaris Jenderal DPP Gerakan Pembumian Pancasila Dr. Gunawan Djayaputra, SH., SS., MH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »