JAKARTA – Asosiasi Halal Logistik Indonesia (AHLI) bersama PT EasyGo Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema Halal Logistics Monitoring di Hotel Asyana Kemayoran, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
FGD ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Chairman AHLI Rizki Eri Utomo dan perwakilan PT EasyGo Indonesia Oskar Deny. Diskusi membahas tuntas tentang kepatuhan halal dalam rantai logistik serta pentingnya peran monitoring digital dari proses loading hingga delivery.
Dalam paparannya, Oskar Deny menegaskan bahwa pemahaman publik tentang logistik halal masih keliru. Selama ini banyak yang mengira logistik halal hanya soal mengangkut barang bersertifikat halal.
“Halal logistik, sebenarnya halal produk itu setiap produk ada sertifikat halal. Tetapi saat ini kita lebih fokus ke distribusinya. Jangan beranggapan bahwa halal logistik itu hanya boleh bawa barang yang bersertifikat halal. Padahal yang haram juga bisa tercampur. Disini kita akan bahas dari alur distribusinya seperti apa,” jelas Oskar.
Mengacu pada Peraturan Pemerintah No 42 Tahun 2016, Oskar menjelaskan tiga pilar utama yang dibahas: pertama adalah jalur pengangkutan dan penyimpanan, memastikan tidak ada pencampuran antara produk halal dan non-halal. Kedua adalah alat transportasinya, apakah memungkinkan untuk dipisahkan antara armada halal dan non-halal. Dan ketiga yang paling penting adalah implementasi digital.
Menurutnya, tanpa teknologi Internet of Things (IoT), pengawasan halal logistik hanya bersifat manual dan tidak memiliki bukti digital.
“Tanpa IoT kita tidak tahu pemisahan produk halalnya dari awal seperti apa, kita tidak bisa cek kondisi armada apakah sudah terdokumentasi secara digital, kita tidak bisa monitoring rute, apakah pintu kargo terbuka di tengah jalan, apakah berhenti di lokasi yang tidak diketahui. Itu hanya jadi check after event. Kita baru investigasi setelah kejadian,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, EasyGo menawarkan dua konsep utama.
1. Halal Fleet Management: Pemasangan perangkat IoT pada armada seperti GPS Tracker, sensor pintu, sensor suhu, hingga Dashcam CCTV di dalam kabin sebagai bukti visual selama perjalanan untuk memastikan tidak ada produk non-halal yang masuk di tengah jalan.
2. Halal Route Management: Platform live tracking, geofencing, hingga Electronic Proof of Delivery (ePOD). Dengan geofencing, area-area penting seperti Halal Loading Zone, warehouse, rest area yang disetujui, hingga Customer Delivery Zone bisa ditandai. Jika kendaraan berhenti di area terlarang atau di luar rute, sistem akan otomatis memberikan alert dan notifikasi.
Semua data tersebut akan terangkum dalam satu dashboard terintegrasi yang menampilkan Halal Fleet Profile (nopol, driver, status halal operasi), Halal Order Classification (jenis produk, sertifikasi halal, asal-tujuan), dan Halal Route Deviation Alert.
“Tujuan akhirnya adalah Halal Logistics Control. Mulai dari traceability untuk mengetahui perjalanan produk dari origin sampai destinasi, visibility tanpa harus terus menerus menelepon driver, security untuk menangkap indikasi unauthorized access, compliance sesuai SOP halal, dan yang terakhir mempermudah audit,” tutup Oskar.
Sementara itu Chairman AHLI Rizki Eri Utomo menambahkan, bukti digital dari IoT sangat penting untuk verifikasi dan audit. Tanpa IoT, audit hanya dilakukan manual. Dengan IoT, monitoring bisa dilakukan secara real-time.
Acara FGD ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat ekosistem logistik halal di Indonesia yang transparan, akuntabel, dan terintegrasi secara digital.
